Mengajarkan Tauhid Pada Anak Bagian I

Mengajarkan tauhid pada anak adalah hal yang paling penting dan sangat mendasar. Eksistensi kehidupan hingga seluruh aspek kehidupan yang akan dialami sepanjang hidupnya bertumpu pada ketauhidan pada Allah SWT tersebut. Seseorang akan tahu tujuan hidupnya, bagaimana menjalaninya, alasan keberadaannya hingga mengapa kehidupan ini ada dan tercipta dimulai dari dasar ketauhidan kepada Allah SWT.  Al Qur'an memiliki unsur utama kandungannya adalah untuk mentauhidkan Allah SWT. Kisah-kisah dalam Al Qur'an sebagai contoh-contoh yang kaya hikmah sehingga manusia sampai akhir jaman bisa berpikir dan memetik pelajaran darinya menjadikan manusia beriman semakin yakin kekuasaan dan ketauhidan Allah SWT. Begitu juga kandungan Al Qur'an berupa hukum-hukum, berita gembira dan ancaman dari Allah SWT kesemuanya menunjukkan ke-Maha Besaran dan ke-Maha KuasaNya yang bertumpu pada tauhid kepada-Nya.

Setiap muslim mengetahui bahwa tauhid adalah asas Islam. Tauhid menjadi pondasi yang mengakar sekaligus puncak dalam Islam. Dari sinilah Islam menaruh perhatian besar untuk mengukuhkan asas ini. Amal saleh adalah sebuah bangunan dan asapnya tauhid murni. Sehingga siapapun yang hendak meninggikan bangunannya tentu saja harus memperkuat fondasi atau asas yang menopangnya. Semakin kokoh, dalam, dan kuat asas tersebut maka semakin tinggi menjulang bangunannya bisa berdiri. Begitu juga sebaliknya semakin rapuh, keropos, dangkal dan lemah pondasi tersebut maka semakin rapuh atau bahkan tidak ada bangunan yang bisa dibangun diatasnya. Kalau pun sempat dibangun maka tidak lama setelahnya pasti runtuh. 

"Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-Nya itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengannya ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (At-Taubah : 109)

Allah SWT memberitahu kita bahwa hanya ada dua pondasi untuk melakukan amalnya, tetapi yang satu diridhoi Allah dan satunya dilaknat-Nya. Pondasi yang diridhoi berdasar pada ketakwaan sedangkan pondasi yang dilaknat berdasar pada kedholiman . Ketakwaan hanya bisa dicapai dengan keimanan tauhid yang murni. Untuk membuat pondasi yang diridhoi Allah di atas dasar takwa tersebut bisa dibuat melalui dua cara, yakni pertama mengenal Allah, perintah-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya dengan benar. Kedua, memurnikan ketaatan kepada-Nya dan kepada rasul-Nya, bukan kepada yang lain. Hanya dengan membuat perbaikan atas dasar aqidah dan tauhid tersebut upaya perbaikan manusia bisa dilakukan dan tercapai tujuannya. Sebaliknya jika ada yang hendak melakukan perbaikan tetapi dasarnya selain tauhid, berarti dia menempuh jalan paling kasar, berat, sulit dan pasti tidak akan kuat menghadapi berbagai godaan karena bukan jalan yang diridhoi Allah SWT.
Ketika menyadari betapa pentingnya mengajarkan tauhid pada Allah SWT tersebut tentu pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana metode dan kondisi yang digunakan supaya maksud dan tujuan diatas bisa tercapai. Disinilah kita perlu menggali ilmu sedalam-dalamnya dan sebanyak-banyaknya sehingga metode dan kondisi tersebut bisa didapat. Al Qur'an dan hadist yang shahih adalah panduan utama hal tersebut dan selanjutnya banyak dijelaskan lebih rinci oleh para ulama sepanjang zaman. Kemauan untuk terus menggali informasi tersebut adalah ikhtiar orang tua yang perlu terus ditumbuhkan dan dijaga sepanjang waktu. Berikut sejumlah panduan dari Al Qur'an dan hadist untuk maksud tersebut : 

1. Nasehat Luqman Al Hakim ke anaknya
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya, 'Wahai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS Luqman : 13)

Sebuah nasehat bijak seorang ayah yang penuh kasih sayang kepada anaknya tentang suatu perkara yang sangat penting, yakni tauhid. 'Wahai anakku' adalah ungkapan kasih sayang yang membuat anak merasa dekat dengan ayahnya, sehingga anak memasang telinga, hati dan seluruh perhatiannya kepada sang ayah. Saat sang anak siap mendengar dengan seksama, sang ayah menyampaikan wasiat pertamanya di pendengaran sang anak, yaitu : "Jangan menyekutukan Allah."

Sebuah permulaan dengan memprioritaskan yang paling penting. Luqman Al Hakim sangat tepat dalam mendidik anaknya. Hal pertama yang wajib diajarkan adalah tauhid dan mengingatkan anak dari dua jenis kesyirikan, yaitu syirik besar dan syirik kecil. Sehingga sang anak tidak beribadah kepada selain Allah, tidak menyeru tandingan selain Allah, tidak meminta kepada orang yang sudah meninggal dan benda-benda gaib, tidak menyembah berhala-berhala, dan tidak menghadapkan hati dan wajah pada selain Allah. 

2. Pemahaman tentang besarnya dan bahaya syirik
Mengkontraskan antara besarnya pahala karena ketaatan berdasarkan tauhid yang pasti berbuah surga dan besarnya dosa kesyirikan yang pasti juga menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka memudahkan seorang anak memahami betapa bahayanya syirik. Bahkan dibanding dosa-dosa besar lainnya, dosa syirik merupakan dosa terbesar yang tidak terampuni.

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik. Dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya......"(An-Nisa : 48)

"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, 'Jika kamu menyekutukan (Rabb), niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (Az-Zumar : 65)

Syirik adalah puncak pembangkangan terhadap Rabb seluruh alam, congkak untuk menaati-Nya, serta tunduk patuh terhadap perintah-perintah-Nya. Selain itu dijelaskan pula bila mereka melakukan kesyirikan, maka amal mereka akan gugur dan mereka termasuk orang-orang yang merugi dunia dan akhirat (QS Az-Zumar : 65)

3. Contoh dan peringatan yang jelas dan tegas
Orang tua tidak cukup hanya memberikan pengertian dan pemahaman tentang tauhid dan bahaya syirik tetapi dituntut memberi contoh riil tentang bagaimana menyikapi berbagai berbagai fenomena yang bisa mendorong mempertebal nilai tauhid dan menghindari bahaya kesyirikan. Contoh dan peringatan tersebut hendaknya diberikan sejelas mungkin dan setegas mungkin. Misalnya ketika berziarah kubur, sang anak harus diberi pengertian dan pemahaman tentang alam kubur dan alam dunia, lalu bagaimana contoh Nabi ketika berziarah kubur, dan apa saja hal-hal yang dilarang ketika berziarah kubur disertai penjelasan yang memadai. Kisah umat nabi Nuh, bisa menjadi penjelasan akan hal tersebut, yakni bagaimana umat nabi Nuh yang awalnya mendudukkan kuburan orang-orang soleh secara berlebihan, hingga dimintai pertolongan, dibuatkan patungnya dan disembah, yang berarti sebuah kesyirikan dengan menyekutukan Allah. Orang-orang sholeh yang dimaksud adalah Wad, Suwa', Yaghuts, Yauq dan Nasr (QS. Nuh : 23). Dakwah nabi Nuh selama hampir 1000 tahun, untuk mengajak mereka kembali ke jalan yang benar, yakni hanya untuk menyembah Allah saja terbukti mendapat penentangan dan perlawanan yang nyata dari kaumnya yang menjadi penyembah berhala-berhala tersebut. 
4. Memilih tempat tinggal dekat dengan masjid 
Dengan memilih tempat tinggal dekat dengan masjid anak-anak akan menjadi dekat dan akrab dengan kalimat-kalimat tauhid. Adzan yang dikumandangkan 5 kali sehari-semalam, sholat fardu berjamaah serta berbagai aktivitas ke-Islaman berbasis masjid adalah berbagai aktivitas untuk menanamkan ketauhidan. Lokasi tempat tinggal sangat penting dan mempengaruhi karakter pendidikan anak sehingga memilih lokasi yang baik adalah suatu hal yang perlu diperhatikan dalam memilih tempat tinggal. Pastikan lokasi tinggal tersebut dekat dengan masjid atau memiliki akses mudah menuju masjid. Masjid yang aktif dengan berbagai aktivitas ke-Islaman akan senantiasa memupuk jiwa tauhid bagi anak-anak dan juga diri kita.  

Komentar